Malam singgah lagi menghalau siangnya
Pekat malam menyorong pergi benderang mentari
Sang punggok kembali tegak berdiri
Berselimut hening embun menjantan
Mencerlang matanya menatap rembulan
Tamsil menongkat pelupuk matanya
Tetap bebola matanya merenung tepat
Berdegup rancak jantungnya bergendang
Betapa beratnya hatinya memikul beban
Seluas lautan rindu berombak buas
Memukul pantai sepi berlagu kasih
Sang punggok tak tertahan rindu dendamnya
Mendendangkan setulus puisi menyapa rembulan
Berutus kasih menyeru pawana kedinginan
Menyampai hasrat rindu bertatah sayu
Wahai rembulan dengarkanlah rintihan punggokmu
Mengharap dikau baring di pelukannya
Melangsaikan hutang rindu yg lama bertunggak
Menyatu jiwa yg kehausan madu
Melarik rasa terpendam bahgia
Mendaki puncak menyelusur lurah malam
Agar punggok nyenyak di siang hari
Mengaut mimpi indah bersama rembulan
Dijadikan azimat pembuak semangat
Untuk terus menanti rembulan
Bila malam kembali bertandang
Menghidupkan punggok yg separuh nyawa
Friday, January 14, 2011
Tuesday, January 11, 2011
Kemala jiwa
Aduhai kemala jiwa ku
Marga apakah yg membelenggu mu
Mega mendung membungkam
Bila kidungmu berlagu hiba
Tawamu berkias sendu
Tuturmu beralun sebak
Senyummu berukir luluh
Betapa hatimu rusuh dihambat duka
Betapa benakmu dihentam keributan
Betapa dadamu sesak dihimpit rasa
Usah diperam mengkal terlalu lama
Sisihkan kepiluan yg menghantuimu
Hadapilah terjal hidup lurah ketentuan
Walau meranduk bara api merah membakar
Jangan pernah dihirau seksanya menahan
Jangan pernah ditoleh ke belakang
Pasakkan kakimu menyusun langkah
Tancapkan hatimu kekar di dalam jasad
Moga tiada kekesalan memburumu
Moga tiada kepahitan meruntunmu
Kembalikan ukiran indah di bibirmu
Siramilah bebunga wangi di kalbumu
Biar dirimu menikmati manisnya madu
Yang kusimpan di dalam dirimu
Marga apakah yg membelenggu mu
Mega mendung membungkam
Bila kidungmu berlagu hiba
Tawamu berkias sendu
Tuturmu beralun sebak
Senyummu berukir luluh
Betapa hatimu rusuh dihambat duka
Betapa benakmu dihentam keributan
Betapa dadamu sesak dihimpit rasa
Usah diperam mengkal terlalu lama
Sisihkan kepiluan yg menghantuimu
Hadapilah terjal hidup lurah ketentuan
Walau meranduk bara api merah membakar
Jangan pernah dihirau seksanya menahan
Jangan pernah ditoleh ke belakang
Pasakkan kakimu menyusun langkah
Tancapkan hatimu kekar di dalam jasad
Moga tiada kekesalan memburumu
Moga tiada kepahitan meruntunmu
Kembalikan ukiran indah di bibirmu
Siramilah bebunga wangi di kalbumu
Biar dirimu menikmati manisnya madu
Yang kusimpan di dalam dirimu
Subscribe to:
Posts (Atom)