Malam singgah lagi menghalau siangnya
Pekat malam menyorong pergi benderang mentari
Sang punggok kembali tegak berdiri
Berselimut hening embun menjantan
Mencerlang matanya menatap rembulan
Tamsil menongkat pelupuk matanya
Tetap bebola matanya merenung tepat
Berdegup rancak jantungnya bergendang
Betapa beratnya hatinya memikul beban
Seluas lautan rindu berombak buas
Memukul pantai sepi berlagu kasih
Sang punggok tak tertahan rindu dendamnya
Mendendangkan setulus puisi menyapa rembulan
Berutus kasih menyeru pawana kedinginan
Menyampai hasrat rindu bertatah sayu
Wahai rembulan dengarkanlah rintihan punggokmu
Mengharap dikau baring di pelukannya
Melangsaikan hutang rindu yg lama bertunggak
Menyatu jiwa yg kehausan madu
Melarik rasa terpendam bahgia
Mendaki puncak menyelusur lurah malam
Agar punggok nyenyak di siang hari
Mengaut mimpi indah bersama rembulan
Dijadikan azimat pembuak semangat
Untuk terus menanti rembulan
Bila malam kembali bertandang
Menghidupkan punggok yg separuh nyawa
No comments:
Post a Comment